Manasik Haji Terintegrasi Blitar: Jamaah Dibekali Layanan Mina hingga Thawaf Ifadhah Pasca Armuzna

Blitar– Suasana penuh kesungguhan kembali terasa dalam kegiatan Bimbingan Manasik Haji Terintegrasi yang digelar oleh Kementerian Haji dan Umroh Kota Blitar di Masjid Nurul Iman, Jumat (3/4/2026).

Puluhan calon jamaah haji dari Kecamatan Kepanjenkidul dan Sukorejo tampak antusias mengikuti rangkaian bimbingan. Mereka hadir dengan satu tujuan yang sama: memastikan setiap langkah ibadah di Tanah Suci berjalan sesuai tuntunan syariat.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Habiburrohman, M.Ag., yang mengupas secara mendalam tentang layanan dan ibadah selama di Mina, salah satu fase penting dalam rangkaian puncak haji (Armuzna).

Ia menjelaskan bahwa Mina bukan sekadar tempat persinggahan, melainkan lokasi pelaksanaan ibadah yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Jamaah akan menjalani mabit (bermalam) serta melaksanakan lempar jumrah yang menjadi bagian dari kewajiban haji.

“Di Mina, jamaah harus menjaga kondisi fisik, kesabaran, dan kedisiplinan. Karena di sinilah ujian kebersamaan dan ketahanan diri benar-benar terasa,” ungkapnya.

Selain itu, layanan di Mina telah dirancang untuk mendukung kenyamanan jamaah, mulai dari tenda ber-AC, konsumsi, hingga layanan kesehatan. Namun demikian, jamaah tetap diingatkan untuk mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada fasilitas.





Thawaf Ifadhah: Penentu Kesempurnaan Haji

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh narasumber M. Baidowi, M.Ag., yang membahas tentang pelaksanaan thawaf ifadhah serta layanan ibadah di Makkah setelah fase Armuzna.

Dalam penjelasannya, thawaf ifadhah merupakan salah satu rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan. Pelaksanaannya dilakukan setelah jamaah menyelesaikan rangkaian ibadah di Mina.

“Thawaf ifadhah adalah penentu sahnya haji. Jamaah harus benar-benar memahami tata caranya, mulai dari niat, jumlah putaran, hingga menjaga kesucian,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa setelah Armuzna, kondisi di Makkah biasanya sangat padat. Oleh karena itu, jamaah harus pandai mengatur waktu, menjaga stamina, serta tetap fokus dalam beribadah di tengah keramaian.





Materi juga menyoroti layanan ibadah di Makkah pasca Armuzna, yang mencakup transportasi, akomodasi, hingga pendampingan ibadah. Jamaah diingatkan untuk tetap mengikuti arahan petugas, menjaga kebersamaan dalam kelompok, serta menghindari tindakan yang dapat mengganggu ketertiban.

Kegiatan manasik ini menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan bagi calon jamaah haji Kota Blitar. Dari pemahaman tentang Mina hingga thawaf ifadhah, seluruh materi dirancang untuk memperkuat kesiapan jamaah dalam menghadapi setiap tahapan ibadah.

Di balik setiap penjelasan, tersimpan pesan mendalam: bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan jiwa yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan total kepada Allah SWT.

Dari Masjid Nurul Iman, langkah-langkah persiapan itu terus dipertegas. Harapan pun mengalir dari setiap hati jamaah—menuju satu tujuan mulia: menjadi haji yang mabrur, penuh keberkahan dan ridha Ilahi.

0 Komentar