Pendalaman Manasik Armuzna: Arafah, Muzdalifah, dan Mina

KBIHU An-Nahdliyah Kota Blitar | Ahad, 8 Februari 2026

Kegiatan rutin Bimbingan Manasik Haji yang diselenggarakan oleh KBIHU An-Nahdliyah Kota Blitar kembali digelar dengan khidmat pada Ahad, 8 Februari 2026, bertempat di Aula Utama Lantai 2 SMK Islam 1 Blitar, Jl. Musi 5, Kauman, Kepanjenkidul, Kota Blitar.

Pada kesempatan ini, materi penting seputar rangkaian Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) disampaikan secara mendalam oleh KH Rokhani, dengan penekanan pada kesiapan jamaah, ketertiban rombongan, serta ketepatan pelaksanaan sesuai tuntunan syariat.


Persiapan Menuju Armuzna

KH Rokhani mengawali materi dengan penegasan pentingnya kekompakan jamaah. Ketua regu diingatkan untuk memastikan beberapa hal krusial, antara lain jamaah telah berihram dengan benar, tidak mengenakan pakaian dalam, telah berniat haji atau badal haji, serta adanya penanggung jawab bagi jamaah berkebutuhan khusus seperti pengguna kursi roda. Tas tenteng harus dibawa masuk ke dalam bus demi kelancaran mobilisasi.


Niat Haji dan Badal Haji

Materi dilanjutkan dengan penjelasan lafal niat haji, baik untuk diri sendiri maupun untuk badal haji, yang dilakukan pada waktunya, baik di hotel pada 8 Dzulhijjah maupun di titik miqat. KH Rokhani menekankan bahwa niat merupakan fondasi ibadah, sehingga harus dipahami makna dan pelaksanaannya, bukan sekadar dihafalkan.

Wukuf di Arafah: Inti Ibadah Haji

Setibanya di Arafah, jamaah dianjurkan membaca doa masuk Arafah, lalu melaksanakan rangkaian wukuf dengan sungguh-sungguh. Di dalam tenda, jamaah mengikuti khutbah wukuf, melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar secara jamak taqdim, memperbanyak doa dan dzikir, serta menunggu hingga matahari terbenam. KH Rokhani menegaskan bahwa wukuf adalah puncak haji, sehingga harus dijalani dengan penuh kekhusyukan.

Mabit di Muzdalifah

Setelah Magrib pada 9 Dzulhijjah, jamaah bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit. Di tempat ini jamaah melaksanakan shalat Magrib dan Isya secara jamak takhir, beristirahat, dan berdzikir hingga melewati tengah malam. KH Rokhani menguatkan materi dengan dalil Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 198 tentang kewajiban berdzikir di Masy’aril Haram sebagai landasan mabit di Muzdalifah.

Mina dan Melontar Jumrah

Memasuki 10 Dzulhijjah, jamaah bergerak ke Mina. Di sinilah jamaah melaksanakan melontar jumrah, tahallul awal bagi laki-laki, serta menjaga orientasi lokasi tenda, kloter, dan jalur kembali dari Jamarat. Materi ini disampaikan secara praktis agar jamaah tidak panik dan tetap tertib di tengah kepadatan jamaah haji dari seluruh dunia.

Nafar dan Thawaf Ifadhah

KH Rokhani juga menjelaskan ketentuan nafar awal dan nafar tsani. Dalam kondisi tertentu, jamaah diperbolehkan mengambil nafar awal dan kembali ke Makkah untuk segera melaksanakan thawaf ifadhah dan sa’i, dengan memastikan sa’i dimulai dari Bukit Shafa sebagaimana ketentuannya.

Penutup: Menjaga Kesempurnaan Ibadah

Materi ditutup dengan penjelasan singkat tentang ziarah ke Madinah, mulai dari Raudhah, makam Rasulullah SAW, Baqi’, hingga Uhud, dengan adab dan ketentuan yang harus dijaga. KH Rokhani mengingatkan bahwa seluruh rangkaian manasik ini bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan spiritual yang menuntut kesabaran, disiplin, dan keikhlasan.

Dengan bimbingan yang runtut dan aplikatif ini, diharapkan seluruh jamaah binaan KBIHU An-Nahdliyah Kota Blitar mampu melaksanakan ibadah haji secara benar dan meraih predikat haji yang mabrur. Aamiin.











0 Komentar