Blitar – Suasana penuh kesungguhan dan kekhidmatan terasa dalam kegiatan Manasik Haji Terintegrasi tingkat Kecamatan Sananwetan yang digelar di Masjid Hidayatullah, Minggu (29/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, materi penting terkait layanan dan ibadah pra-Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) disampaikan oleh Dr. H. Habibur Rohman sebagai bekal krusial bagi para calon jamaah haji.
Materi ini menjadi salah satu inti pembekalan, karena fase pra-Armuzna merupakan masa penentuan sebelum jamaah memasuki puncak ibadah haji.
Dalam paparannya, Dr. Habibur Rohman menjelaskan bahwa setibanya di Bandara Jeddah, jamaah akan melalui serangkaian proses penting seperti pemeriksaan dokumen, biometrik, hingga pembagian identitas jamaah. Seluruh proses ini telah diintegrasikan dalam sistem layanan haji 2026 yang lebih tertata dan efisien.
Khusus bagi jamaah gelombang II, terdapat ketentuan penting: jamaah sudah mengenakan ihram sejak dari embarkasi, dan niat dilakukan saat melintasi miqat di dalam pesawat. Hal ini disebabkan tidak adanya waktu persiapan di Jeddah karena jamaah langsung diarahkan menuju Makkah.
Selama perjalanan menuju Makkah, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak talbiyah, dzikir, dan doa, serta menjaga larangan ihram. Setiap langkah perjalanan bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi bagian dari ibadah yang harus dijaga kesuciannya.
Transportasi yang digunakan berupa bus resmi ber-AC dengan waktu tempuh sekitar dua jam, langsung menuju hotel sesuai kloter tanpa penumpukan di bandara.
Setibanya di Makkah, jamaah akan mendapatkan layanan yang semakin humanis dan berorientasi pada kebutuhan:
Akomodasi berbasis zonasi, dengan prioritas bagi lansia
Konsumsi 3 kali sehari dengan cita rasa Indonesia
Layanan kesehatan kloter dan sektor untuk menjaga kondisi jamaah
Bimbingan ibadah intensif, termasuk simulasi Armuzna
Transformasi layanan haji 2026 menitikberatkan pada kenyamanan dan keselamatan jamaah, terutama menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan kelelahan perjalanan.
Setelah tiba di Makkah dan beristirahat, jamaah langsung melaksanakan umrah wajib yang meliputi thawaf, sa’i, dan tahallul. Ini menjadi kewajiban utama dalam skema haji tamattu’.
Selain itu, jamaah juga dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah seperti tawaf, shalat di Masjidil Haram, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an.
Menjelang puncak haji, jamaah diarahkan untuk fokus memahami rangkaian wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lempar jumrah di Mina. Simulasi pergerakan menjadi bagian penting agar jamaah tidak mengalami kebingungan saat pelaksanaan.
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan berbagai tantangan, mulai dari kelelahan perjalanan, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan waktu.
Materi juga mengupas secara detail tata cara ibadah, seperti:
Thawaf: dilakukan 7 putaran dengan posisi Ka’bah di sebelah kiri, menjaga kesucian, serta penuh kekhusyukan
Sa’i: dimulai dari Safa ke Marwah sebanyak 7 kali, dengan menjaga adab dan kesabaran
Tahallul: ditandai dengan mencukur rambut sebagai tanda selesainya umrah
Setiap rangkaian ibadah memiliki ketentuan yang harus dipahami dengan baik agar sah secara syariat.
Dalam haji tamattu’, jamaah diwajibkan membayar dam berupa seekor kambing atau alternatif puasa jika tidak mampu. Pembayaran dam harus melalui lembaga resmi untuk menghindari praktik yang tidak sesuai syariat.
Materi ini juga mengingatkan adanya potensi masalah, seperti distribusi daging yang tidak tepat sasaran, sehingga jamaah diminta lebih bijak dan berhati-hati.
Masa pra-wukuf menjadi momentum penting untuk memperkuat ibadah. Jamaah dianjurkan memperbanyak shalat berjamaah, i’tikaf, membaca Al-Qur’an, serta menjaga kondisi fisik.
“Ini adalah masa penguatan sebelum puncak haji. Jangan disia-siakan,” menjadi pesan yang tersirat dalam materi tersebut.
Materi yang disampaikan Dr. Habibur Rohman ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya tentang menjalankan ritual, tetapi juga tentang kesiapan mental, fisik, dan spiritual secara menyeluruh.
Dengan pembekalan yang matang, jamaah haji Kota Blitar diharapkan mampu menghadapi setiap tahapan ibadah dengan tenang, tertib, dan penuh keikhlasan.
Manasik ini pun menjadi pijakan penting menuju satu tujuan utama: meraih haji yang mabrur, penuh ridha Allah SWT.
Berikut materi yang disampaikan

0 Komentar